Barangkali kita pernah, atau bahkan sering, membandingkan diri dengan orang lain. Dalam beberapa hal, tak jarang sebelum menjalani sesuatu kita bercermin pada orang lain. Pada kondisi tertentu kadang ukuran keberhasilan itu pun juga disandarkan pada pencapain orang tersebut.
Apakah itu baik? apakah itu berdampak positif pada psikologi kita, atau bahkan akan berdampak negatif karena sejatinya setiap manusia itu unik, bukan?
Leon Festinger, psikolog sosial asal Amerika Serikat pernah mencetuskan sebuah teori perbandingan yang dikenal dengan Social Comparison Theory. Faktanya, hampir setiap orang membuat suatu perbandingan dirinya dengan orang lain.
Perbandingan itu bisa pada sosok yang menurutnya lebih berhasil darinya (upward social comparison), atau sebaliknya membandingkan diri dengan orang yang menurutnya berada di bawahnya (downward social comparison).
Hal itu digunakan untuk melakukan self-evaluation atau evaluasi diri sendiri. Dampaknya bisa positif bisa negatif. Dampak positif misalnya, membuat seseorang lebih termotivasi, misalnya ketika akan melakukan sesuatu, ia akan melihat orang yang sudah berhasil, akan muncul rasa percaya diri : dia saja bisa, kenapa aku tidak?
Namun dampak negatifnya, bisa menciptakan perasaan rendah diri. Ini sangat dipengaruhi oleh self-talk, ketika self-talk negatif menguasahi pikiran, maka akan ada seribu alasan untuk membenarkan ketidakberhasilan yang ia capai dengan perbandingan orang lain.
Dalam kasus di atas, mereka yang membandingkan diri dengan orang yang sudah berhasil, maka akan menjadi minder dan rendah diri, sehingga muncul kalimat-kalimat pesimistik.
Sebenarnya, sekalipun membuat suatu perbandingan bukan hal yang keliru, namun perlu disadari bahwa setiap orang itu berbeda. Saat pada akhirnya kamu membandingkan dirimu dengan orang, pastikan perbandingan itu punya alasan berikut :
Pertama, cobalah untuk memberikan apresiasi kepada orang yang berhasil. Keberhasilan bisa bermacam-macam, entah berhasil lulus sekolah, diterima kerja, naik jabatan, rilis karya, atau keberhasilan lain kamu tangkap dari orang tersebut.
Apresiasi yang kamu berikan ke orang lain itu sebenarnya memberikan emosi positif pada diri sendiri, sehingga self-talk positif akan lebih kuat dalam pikiran kamu, karena didominasi oleh pikiran yang apresiatif.
Kedua, karena sudah pasti masing-masing orang itu berbeda, maka cobalah cari sisi yang sama ketika kamu mulai membandingkan diri dengan orang lain. Seperti misalnya, kamu terinspirasi dengan sosok yang kini jadi public figure dan pengusaha kaya, cari satu kesamaan. Misalnya, dulu ia sama-sama terlahir dari keluarga miskin atau menengah.
Dalam mencari kesamaan tersebut, bisa jadi kamu memiliki bekal yang lebih baik dibandingkan mereka saat berjuang dulu, lho? ini bisa membuat semangatmu makin membara.
Ketiga, ceritakan itu ke orang terdekat, keluarga, sahabat, atau pasangan. Dengan menceritakan ke orang terdekat, itu menambah support system dalam perjuanganmu. Mereka bisa saja akan mendoakanmu, akan banyak energi positif yang membuatmu lebih mudah berhasil.
Keempat, tekun dan konsisten. Apa yang kamu perjuangkan, perbandingkan, dan ceritakan ke orang lain akan sia-sia kalau kamu tidak tekun dan konsisten. Bahkan ini bisa menjadi senjata makan tuan, ketika orang tak lagi menganggap serius apa yang kamu perjuangkan karena kamu dikenal tidak tekun dan konsisten.
Apa yang kamu perjuangkan, perbandingkan, dan ceritakan ke orang lain akan sia-sia kalau kamu tidak tekun dan konsisten
Kesimpulannya, membandingkan diri dengan orang lain tak salah. Itu hanya bagian dari self-evaluation yang wajar-wajar saja. Dalam melakukan self-evaluation, self-talk positif harus lebih kuat agar berdampak positif pula. []


Tidak ada komentar:
Posting Komentar