Kasus perundungan atau bullying memang sering terjadi di sekolah, khususnya jenjang sekolah dasar, menengah pertama, dan sebagian menengah ke atas.
Perundungan terjadi karena emosi anak memang belum stabil, seringkali ia melakukan bullying pada temannya tanpa suatu pemikiran matang. Namun korban perundungan tetap akan mengalami kekerasan psikis.
Maka, Orang Tua dan Guru perlu lebih siaga jika memiliki anak atau murid yang kemungkinan rawan dibully. Setidaknya, 3 tipe anak inilah yang rawan dibully oleh teman-temannya.
Pertama, anak cowok yang feminim atau berperilaku seperti anak perempuan. Sehari-hari ia dikatakan ngondek, bahkan tak jarang disebut banci atau bencong. Lebih parah lagi dilabel waria. Ini bisa membuat anak tersebut tertekan dan merasa rendah diri.
Tekanan semakin bertambah ketika orang tua menyuruhnya agar lebih macho, guru juga menceramahinya agar bertingkah layaknya laki-laki. Penderitaan psikisnya semakin bertambah.
Faktanya, dia memang memiliki gestur demikian. Mau dirubah seperti apapun akan sulit. Gestur dan pembawaannya barangkali tidak cocok dengan kita, namun itu adalah wilayah privat yang seharusnya tidak kita campuri.
Orang tua dan guru harus peka, apalagi jika memiliki anak dengan tipe seperti ini. Dukungan agar terus aktif dan berprestasi di sekolah lebih utama ketimbang menyuruhnya untuk menjadi laki-laki manly, yang nyatanya mau diupayakan seperti apapun tetap sulit.
Kedua, bertubuh lebih besar. Anak dengan postur tubuh besar juga rawan mendapatkan bullying. Meskipun teman-temannya bercanda, dan si anak juga tidak terlalu bereaksi. Namun jika sebutan-sebutan negatif terus dihujamkan, itu akan masuk dalam otak bawah sadar si anak.
Diakui atau tidak hal itu juga memengaruhi tingkat percaya diri si anak, perlahan-lahan. Maka Orang tua dan guru perlu memberikan dukungan moril, dengan tidak ikut-ikutan memberikan label negatif. Dukungan untuk hidup lebih sehat dan berprestasi di sekolah adalah lebih penting.
Ketiga, anak yang unik. Diakui atau tidak memang ada beberapa tipe anak yang unik, sukar dipahami, bahkan seperti punya dunia sendiri. Seringkali ia dianggap aneh, njeleneh, autis, abnormal dan lain sebagainya.
Ia sering menyendiri, kesepian, dan tak begitu bisa bergaul secara sosial. tragisnya ia mulai menyadari bahwa dirinya berbeda, sehingga muncul insecurity atau rasa tidak aman.
Orang tua dan guru harus peka, sebab betapapun berbedanya dia dengan anak-anak lainnya, pasti memiliki satu ruang untuknya tumbuh. Hal ini penting agar ia tidak depresi dan rasa percaya dirinya drop karena merasa berbeda itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar