Corona, HIV, dan Lebaran




Ahad, 25 Mei 2020

Beberapa keluarganya menjauhi, bahkan tidak mau datang ke rumah saat lebaran karena takut tertular HIV.

Info itupun beredar, membuatnya terisolasi dari pergaulan sekitar dengan label ODHA (orang dengan HIV/AIDS).

Padahal HIV, sekalipun sangat berbahaya nan mematikan, tidak segampang itu menular. Ia tak selincah virus corona yang pandai loncat-loncat. Ia hanya menular lewat saluran tertentu dan berada di cairan tertentu, darah dan sperma terutama.

Masyarakat banyak yang belum memahaminya, sehingga membuat pembatasan fisik berlebih, dan sebagian mengucilkan.

Padahal sikap itulah yang membuat ODHA makin stres, dan drop. Bukan karena HIV, namun karena pikiran alias psikosomatis atas beban pikiran yang ditanggungnya karena sikap orang-orang di sekitarnya.

Kini, saat pandemi covid-19, kita bisa melihat pemandangan yang sama. Orang jadi super waspada. Bersin dan batuk saja langsung dicurigai.

HIV lebih mengerikan dari corona, namun penularan corona lebih gampang dan cepat. Konon, semakin gampang flu menular, semakin mudah dilawan oleh tubuh. Dengan syarat : tubuh juga harus sehat.

Beda dengan HIV, butuh bertahun-tahun untuk bereaksi. Misal hari ini seseorang terkena HIV, bisa jadi 4-10 tahun berikutnya baru terasa alias mencapai AIDS. Ketika sudah pada level ini, wassalam.

Karenanya, penting untuk mendeteksi sejak dini, agar ada penanganan medis, agar tidak sampai pada AIDS. Meskipun HIV tidak bisa disembuhkan.

Virus corona, bisa disembuhkan atau dilawan secara maksimal oleh tubuh. Hanya beban psikologis yang ditanggung itu lebih berat, dibanding efek fisik dari virusnya itu sendiri.

Teman saya, seorang tenaga medis, dalam hasil rapid test yang dilakukan rumah sakit tempatnya bekerja, dinyatakan bereaksi positif covid-19.

Sebagai tenaga medis ia cukup memahami apa dan bagaimana jenis dan pergerakan virus tersebut. Ia juga bisa mengukur sebatas mana ketahanan fisiknya sendiri.

Namun ada hal lain yang lebih berat ; menjalani lebaran di ruang isolasi, memendam kangen pada keluarga, serta mengingat momentum kehangatan dengan kerabat saat lebaran.

Lalu bagaimana dengan yang bukan tenaga medis? Ya tentu lebih berat secara psikologis. Bahkan ada bayang-bayang kematian yang begitu dekat. Mati di tempat yang asing, tanpa didampingi keluarga.

Keluarga di rumah pun juga waswas, sedih, khawatir, dan tak henti merapalkan doa. Ibu teman saya konon menangis setiap habis shalat, setelah tahu anaknya yang seorang perawat itu, positif covid-19.

Sisi psikologis juga perlu dipertimbangkan, selain sisi medis, bukan?

Kita yang bosan di rumah saja, sebenarnya masih punya cukup banyak kebebasan. Bisa menonton tv, berkebun, membaca buku, video call, minum kopi, menulis, memasak, dan lain sebagainya.

Bayangkan dengan yang sedang berada di ruang isolasi. Mereka berjuang untuk sembuh agar bisa kembali merasakan nikmatnya sehat.

Lantas bagaimana dengan para ODHA yang harus berobat seumur hidup, dengan pembatasan interaksi, stigma dan bayangan negatif akan masa depan?

Namun apalah arti semua itu, toh kita semua pasti akan mati, dengan caranya masing-masing.

Namun kehidupan adalah suatu yang patut disyukuri dan diperjuangkan. []

Kedai MuaRa
Ahmad Fahrizal Aziz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar