Para Ibu yang Harus Bekerja



Senin, 18 Mei 2020

Perempuan itu tampak sibuk : membuat catatan, menandai kalender, serta menjelaskan sesuatu kepada rekan kerjanya yang akan berbelanja ke pasar.

"Jelang lebaran pesanan kue gila-gilaan," Ujarnya pada saya.

Di rumah bergaya kuno, dengan atap tinggi dan jendela-jendela lebar itu, ia membuka kios kue rumahan. Suatu hobi lama yang akhirnya jadi mata pencaharian, sejak suaminya meninggal.

Tak menyangka jika pesanan kue membludak, meski tanpa tim marketing khusus.

"Ini rezeki anak, karena itu anak-anak saya bisa sekolah dengan jualan kue," Jelasnya sumringah.

Di dapur rumahnya, kue-kue itu diproduksi, dibantu 4 orang pegawai alias rekan kerja, yang tak lain adalah tetangganya sendiri. Dua di antaranya adalah anak tetangga, masih seusia anak bungsunya.

Kebetulan dua anak tetangga itu sedang liburan, jadi bisa untuk mengisi waktu libur sekaligus berguru membuat kue, dari ahlinya.

-00-

Ibu-ibu berkerumun di pintu gerbang pabrik rokok. Banyak penjual melapak di sana. Ada penjual baju, tas, buah-buahan, dan lainnya.

Para pekerja bagian dalam memang diutamakan perempuan. Laki-laki biasanya bagian security, sopir, atau permesinan.

Berangkat pagi pulang sore. Maka jangan heran ketika pagi dan sore, suasana dekat pintu gerbang selalu ramai, membludak, dan kadang membuat jalanan sekitar macet.

Di antara mereka ada yang dijemput, naik angkot, ngojek, atau berkendara sendiri.

Ada yang dijemput suami beserta anaknya yang masih kecil.

Kenapa mereka harus bekerja? tanya saya pada bapak-bapak berkacamata yang tengah sibuk membaca koran surya, di warung kopi dekat lokasi.

Jawabannya sudah pasti, karena kebutuhan hidup, mungkin.

Di atas meja, ada sebungkus rokok yang bukan produk dari pabrik itu. Bapak itu sesekali menawarkannya pada saya.

"Hanya pekerja pabrik rokok yang mungkin gajinya tak pernah nunggak," Kelakarnya.

Itu dikarenakan, jumlah perokok akan selalu ada, dan mungkin bertambah.

-00-

Ponsel saya berdering, telepon dari nomor luar negeri. Meminta saya lekas menyambungkan dengan ibunya yang sudah sepuh, dan tak bisa menggunakan ponsel.

Sudah lama ia jadi TKW, dan tak selalu ada waktu menelepon. Kala itu belum ada Whatsapp, jadi masih menggunakan jaringan seluler yang berbiaya mahal.

Jadi kapan pulang? tanya Ibunya.

Tidak gampang untuk pulang. Jarak Hongkong-Blitar sangat jauh. Daripada pulang hanya seminggu, mending uangnya dikirim.

"Ya ini resiko pekerjaan yang sudah dipilih," Jelasnya sambil terisak.

Ia tak bisa pulang saat bapaknya meninggal. Hanya dapat kabar dan foto, wajah terakhir sang bapak, sebelum dikuburkan.

Berhari-hari ia hanya bisa menangis diperantauan sana, tidur pun selalu memimpikan sang bapak.

Namun ia belum bisa pulang secepat itu. Dua sekolah anaknya perlu dibiayai, apalagi yang sedang kuliah. Rumahnya juga tengah direnovasi.

Mau tak mau ia tetap harus bekerja, terlepas siapa yang berkewajiban mencari nafkah dalam keluarga, nyatanya ia dan sederet perempuan dalam realitasnya, juga bekerja. []

Kedai MuaRa
Ahmad Fahrizal Aziz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar