Please, Jangan Bunuh Diri! Nara




Lebih baik aku mati saja.

Nara mengirimkan pesan singkat itu ke Alfi. Setelah itu ponselnya mati dan tak bisa dihubungi.

Alfi begitu panik, ia sampaikan informasi itu ke grup whatsapp, banyak respon yang sama.

...sepertinya Nara baru bertengkar dengan pacarnya...

...mereka putus...

Respon anggota grup membuat Alfi semakin khawatir. Nara, please jangan bunuh diri! Batinnya.

###

Nara tak terlalu akrab dengan teman sekelasnya, dia sangat pendiam. Kemampuan akademiknya pun juga tak terlalu menonjol.

Apalagi, setelah Nara menjalin hubungan dengan Doni, ia semakin tak mempedulikan pertemanan di kelasnya.

Satu-satunya yang kadang diajak bicara Nara hanya Alfi, konselor remaja di kelas mereka setelah pihak sekolah menjalin kerjasama dengan komunitas relawan.

Di keluarga pun, Nara juga tak begitu dibanggakan seperti kakaknya. Nara tak cukup berprestasi, tak pernah masuk 10 besar. Ia juga tak memiliki aktivitas apapun di bidang non akademik.

"Dia memujiku cantik," ucap Nara dengan senyum malu-malu saat menceritakan kedekatannya dengan Doni kepada Alfi.

Alfi melihat Nara mulai menemukan kebahagiaannya, selama ini dia dan guru-guru melihat Nara sosok yang tertutup dan cenderung anti sosial. Baru kali ini dia tersenyum dan bahagia.

Alfi menyambut perubahan sikap Nara dengan positif, sembari menjelaskan apa yang harus ia lakukan ketika menyukai seseorang?

"Apa yang kamu suka dari dia?" tanya Alfi.

"Dia itu perhatian padaku," jawab Nara.

Nara merasa punya harapan, setidaknya setelah memiliki pacar Doni, ia merasa setidaknya ada seseorang yang memedulikannya.

###

Hanif memungut lembaran kertas berceceran, ia lihat ada gambar-gambar menarik terarsir indah pada lembaran kertas itu: karikatur pria.

Tetapi, diujung jalan, dekat tebing ia melihat seorang perempuan berdiri mematung. Hanif mendekatinya.

"Hai, ini punyamu ya? Tadi jatuh di sana," tanya Hanif.

Perempuan itu terkesiap, lalu ia membalikkan tubuhnya dan melihat seorang pria sedang berdiri menyodorkan lembaran-lembaran kertas padanya.

"Tidak penting, buang saja," jawabnya.

Hanif terkejut, ia melihat wajah sembab dan pipi yang basah. Ada apa gerangan?

"Tapi karikaturmu bagus lho, kamu berbakat banget," puji Hanif.

Perempuan itu terbelalak, baru kali ini ada orang yang memuji karikaturnya.

"Aku kerja di media, aku tertarik sama karikatur-karikatur kamu, jika kamu tertarik aku pengen ngobrol banyak hal sama kamu," jelas Hanif sembari menyodorkan kartu nama.

Agak ragu, perempuan itu menyambut kartu nama Hanif.

"Kenalkan, aku Hanif, kamu?"

"Nara."

###

Alfi bisa bernafas lega saat tahu Nara sudah berada di rumahnya. Ia sangat khawatir.

Nara memeluk tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya, lalu menceritakan hubungannya dengan Doni yang tak berjalan baik. Mereka putus. Alfi berusaha menenangkannya.

Di kamar yang sunyi, Nara melihat-lihat lagi karikatur yang tadi ia buang. Ia membuat banyak karikatur tentang sosok Doni, pacarnya. Namun hatinya sangat patah saat ini.

...kita putus aja ya, aku udah bosan...

Kalimat itu sungguh menyakitkan. Tapi ada kalimat lain yang membuatnya terus berpikir.

...tapi karikaturmu bagus lho, kamu berbakat banget...

Baru kali ini ada yang memuji karyanya. Selama ini tidak pernah satu pun orang memuji karyanya, termasuk orang tuanya.

Kamu kok gambar terus mau jadi apa? Belajar sana yang rajin, ujar Ibunya.

###

Nara menghubungi Hanif, mereka bertemu di kantor majalah tempat Hanif bekerja.

"Kami butuh 5 karikatur untuk 3 artikel dan 2 figur ini, kamu bisa bikin?" tanya Hanif.

Entah kenapa Nara senang sekali mendapat tawaran ini. Hanif juga tak perlu lagi mencari karikaturis, ia sangat kebingungan belakangan ini karena Karikaturis andalannya sedang over jobs.

"Apa kamu juga bisa bikin ilustrasi?"

Nara mengangguk pelan.

###

Majalah selebritas itu akhirnya terbit, ada karya Nara di sana, sejumlah honor juga sudah ia terima.

Ia mengkliping dengan rapi karikatur dan ilustrasi karyanya, lalu menempelnya di dinding kamar. Nara seolah menemukan kebahagiaannya tersendiri.

Ia menghubungi Alfi dan menraktirnya Gelato Vanilla.

"Kak terima kasih atas semuanya," ucap Nara setelah menceritakan perihal karyanya yang terbit di Majalah.

Alfi tampak takjub melihat karya Nara bisa muncul di sebuah majalah terkemuka. Info tersebut lekas ia sebarkan.

Nama Nara mulai jadi bahan perbincangan, termasuk di kalangan guru-guru.

Nara pergi ke fashion store untuk membeli setelan baju terkini dari honor yang ia dapat.

Di depan cermin, ia seperti melihat dirinya yang baru, Nara sang karikartunis. Ia mulai melupakan kesedihannya tentang Doni.

Sekarang fokusnya hanya menyelesaikan sekolah, kuliah di bidang komunikasi dan menggeluti passionnya.

Ia teringat kalimat Alfi: Please, Nara, jangan bunuh diri, hidupmu sangat berharga.

Nara tersenyum, ia pernah berada di fase itu, ia bersyukur pada Tuhan bisa melalui fase itu dengan hal yang tak pernah ia duga.

Cara mengekspresikan ketertarikannya pada Doni melalui gambar, hanya itu yang ia bisa, ternyata itu membuka jalan hidupnya yang baru.

By Ahmad Fahrizal Aziz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar