"Kalau aku hamil gimana?"
"Kan bisa pakai kondom?" jawabnya.
"Hmm... tapi aku takut."
"Kok takut, kita kan dah pacaran, kamu beneran sayang gak sih?"
-00-
Sudah 2 minggu Mey berpacaran dengan Gasa, kedekatan mereka berdua menjadi perbincangan anak satu sekolahan.
Gasa adalah cowok populer di sekolahnya, dia selebgram dengan ribuan follower karena memiliki paras yang tampan.
Mey sangat bahagia saat Gasa akhirnya menyatakan perasaan padanya, tapi dalam seminggu terakhir, Mey merasa bimbang dan gusar.
"Yank, pap in yank," tulis Gasa lewat pesan chatnya.
"Malu ah aku sayang," balasnya.
"Kok malu sih, kan kita udah pacaran, ayo," paksa Gasa.
Tak berapa lama justru Gasa duluan yang mengirimkan foto penisnya. Itu membuat Mey setengah berteriak, tubuhnya bergetar dan ponselnya nyaris terbanting.
"Ini punyaku yang, sekarang pap in punyamu," desak Gasa.
Tapi Mey tak membalas, Gasa berulang kali meneleponnya dan dia tak berani mengangkat.
-00-
Mey tak menduga Gasa akan melakukan itu, padahal kencan pertama mereka biasa saja. Jalan-jalan dan makan bareng di kafe, tapi setelah itu Gasa mulai banyak permintaan tak senonoh.
Mey menjadi takut dengan pacarnya itu, dan justru berusaha menghindar.
Saat pulang sekolah, Mey sengaja lewat pintu samping, tapi Gasa tahu dan menghadangnya di jalan pintas dekat kebun.
"Kamu kenapa sih yank," tanyanya.
"Aku... aku... hmm," jawab Mey terbata.
"Kita udah jadi pacar, kan?"
Mey hanya menunduk, ia semakin ketakutan melihat wajah Gasa. Wajah tampan yang dulu sangat ia kagumi itu kini terlihat begitu mengerikan.
"Mey."
Seseorang memanggilnya. Itu Fildan, teman sekelas Mey yang juga tetangganya.
"Fildan," balas Mey dan lekas menghampirinya.
Tapi Gasa memegang pergelangan tangan Mey sehingga langkahnya pun tertahan.
"Bentar yank, aku lagi ngomong," ucap Gasa.
Lalu matanya menatap ke Fildan.
"Bisa gak kamu ninggalin kami berdua? Ini urusanku sama pacarku," ucap Gasa ke Fildan.
Fildan mengangguk pelan, tapi ia urungkan niat untuk pergi karena melihat raut muka Mey yang ketakutan.
"Eh, tapi hari ini Mey ada kerja kelompok denganku dan teman-teman lainnya," balas Fildan berbohong.
"Yank, lepas, ntar aja aku wa."
Mey melepaskan tangannya dari cengkraman Gasa, dan pergi bersama Fildan.
-00-
Sesampainya di rumah, Mey diberondong chat oleh Gasa.
"Kamu anggep aku apa sih yank?"
"Cowok tadi siapa? Selingkuhan kamu?"
"Aku kecewa banget sama kamu yank."
Mey tak berani membalas pesan Gasa, ia dihinggapi ketakutan yang sangat.
Ia pun teringat seminggu lalu ada sosialisasi Kespro di sekolah dan ada kontak relawan peduli perempuan yang ia simpan. Langsung ia menghubungi.
"Halo apa ini kak Lia?"
"Iya ini siapa?"
"Saya Mey, kemaren nyimpen nomor kakak waktu acara di sekolah," jelasnya.
-00-
Mey mengatur janji untuk bertemu dengan Lia, dia tak tahu lagi harus cerita masalahnya ke siapa. Ia pun juga takut jika bercerita ke orang tuanya.
Di sebuah kafe dengan gaya vintage, Mey menceritakan perihal hubungannya dengan Gasa, termasuk permintaan Gasa untuk mengirimkan foto telanjang hingga ajakan berhubungan badan.
Saat bercerita itu, Mey tak kuasa menahan tangis, ia merasa sangat tertekan akhir-akhir ini.
"Itu bukan hubungan yang sehat, cara mengekspresikannya tidak aman," jelas Lia.
Lia kemudian menjelaskan tentang ekspresi seksual yang aman dan tidak aman.
"Kalau sampai meminta pap telanjang atau alat vital, pegang-pegang bagian tubuh sampai ajakan berhubungan intim, itu termasuk ekspresi yang tidak aman. Apalagi jika sudah pemaksaan," lanjutnya.
Setelah perbincangan itu, Mey jadi punya keberanian untuk bersikap. Ia kemudian menghubungi Gasa dan mengutarakan keinginannya untuk putus alias mengakhiri hubungan.
"Apa, seenaknya kamu mutusin aku yank, emang secantik apa sih kamu, masih untung aku mau pacari kamu."
Gasa terus mengirimkan sumpah serapah sampai Mey benar-benar kena mental membacanya. Berulang kali juga Gasa mencoba meneleponnya tapi tak ia angkat.
"Kalau macem-macem nanti aku laporin kamu," ancam Mey ke Gasa.
Karena tak kuasa, Mey pun mengunggah ke sosial media. Satu sekolah dibuat gempar membaca screenshoot chatnya dengan Gasa, sampai guru BK pun meresponnya.
Sejak ia mengunggah itu, ia takut pergi ke sekolah, ia takut diapa-apain Gasa.
Gasa pun demikian, namanya sudah tercoreng di sekolah, baru kali ini ada perempuan berani menolak dan melawannya sampai seperti ini.
Lia, relawan peduli perempuan pun mencoba mengkomunikasikan ini ke P2TP2A Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan di kotanya. Dinas pun menjemput Mey untuk memberi bantuan konseling.
-00-
Pihak sekolah melakukan rapat terbatas dan memberikan teguran keras pada Gasa, guru BK bahkan mengusulkan agar Gasa dikeluarkan. Namun Waka Kesiswaan menolak melakukan itu.
Mey pun dipertemukan dengan Gasa dan Gasa harus meminta maaf, serta tak akan mengulangi lagi sikap buruknya tersebut. Gasa menyanggupi hal itu.
Peristiwa itu membuat Gasa kehilangan banyak follower instagram dan banjir hujatan. Ia pun mendapat tekanan mental yang kuat.
-00-
Mey akhirnya bisa kembali ke sekolah. Ia menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran yang berharga, meskipun ada juga yang menyerang dirinya dengan kalimat: salah sendiri pacaran.
Saat sampai di gerbang sekolah, Fildan sudah berdiri menyambutnya.
"Jangan takut Mey, aku siap jadi pengawal kamu, aku anak karate lho," candanya.
Mey hanya tersenyum. Fildan adalah teman sekolahnya sejak SD hingga sekarang mereka SMA. Saat SMP Fildan sering mengirimkan kue coklat untuknya, disitu selalu terselip puisi untuknya.
Tiap ulang tahun, Fildan selalu memberinya hadiah boneka yang berbeda, sampai kini jadi koleksi di kamarnya.
Tiba-tiba Mey teringat ucapan Lia bahwa masing-masing orang berhak mengekspresikan seksualitasnya, namun dengan cara yang aman, misalnya lewat puisi, lagu, belajar bareng dan sebagainya.
Mey mengalihkan pandangan ke arah Fildan yang tengah khusyuk menyimak pelajaran.
Apa selama ini itu bentuk ekspresi ketertarikan Fildan padaku, ya? Batin Mey.
Namun selama ini Mey menganggap Fildan adalah sahabatnya, dan tak berpikir sejauh itu. []
#ceritarasa
#ruangrasa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar